Logo Kalkulatorin
kalkulatorin
πŸ”₯

Kalkulator TDEE (Total Daily Energy Expenditure)

Hitung total kalori yang Anda bakar per hari berdasarkan BMR (Mifflin-St Jeor) dan level aktivitas. Dasar untuk program diet, bulking, atau cutting. Lihat juga Kalkulator Kalori & BMR.

Kebutuhan Kalori Harian (TDEE)
2.200 kkal
Berat Badan Stabil

BMR (kalori basal saat istirahat): 1.600 kkal

Turun BB (–500 kkal): 1.700 kkal
Stabil: 2.200 kkal
Naik BB (+500 kkal): 2.700 kkal
⭐
Apakah kalkulator ini membantu? Beri penilaianmu β€” jujur aja.
πŸ›Ÿ
Ada yang salah dengan hasil hitungannya? Laporkan ke kami β€” kami cek & perbaiki.

Apa Itu TDEE dan Mengapa Berbeda dengan BMR?

Dalam dunia nutrisi dan kebugaran, dua istilah yang paling sering tertukar adalah BMR (Basal Metabolic Rate) dan TDEE (Total Daily Energy Expenditure). BMR adalah jumlah kalori minimum yang dibutuhkan tubuh hanya untuk mempertahankan fungsi vital dasar saat benar-benar istirahat total β€” seperti bernapas, detak jantung, sirkulasi darah, dan suhu tubuh. Sedangkan TDEE adalah total keseluruhan kalori yang dibakar tubuh dalam 24 jam, mencakup BMR ditambah semua aktivitas.

TDEE inilah angka sesungguhnya yang menentukan apakah berat badan Anda naik, turun, atau stabil. Jika Anda mengonsumsi kalori lebih sedikit dari TDEE, Anda mengalami defisit kalori dan berat badan akan turun. Jika lebih banyak, Anda surplus dan berat badan naik. Jika seimbang, berat badan stabil. Karena itu, mengetahui TDEE adalah langkah pertama yang wajib sebelum menyusun program diet atau latihan apa pun.

Rumus Mifflin-St Jeor: Standar Emas Perhitungan BMR

Ada beberapa rumus BMR yang beredar, namun yang paling akurat dan direkomendasikan para ahli gizi saat ini adalah rumus Mifflin-St Jeor yang dipublikasikan tahun 1990 dan divalidasi dalam Journal of the American Dietetic Association. Rumus ini lebih akurat dibanding rumus Harris-Benedict yang lebih tua:

Pria: BMR = (10 Γ— BB kg) + (6,25 Γ— TB cm) βˆ’ (5 Γ— usia) + 5
Wanita: BMR = (10 Γ— BB kg) + (6,25 Γ— TB cm) βˆ’ (5 Γ— usia) βˆ’ 161
TDEE = BMR Γ— Faktor Aktivitas

Setelah BMR dihitung, kalikan dengan faktor aktivitas fisik (Physical Activity Level / PAL) untuk mendapatkan TDEE. Semakin aktif seseorang, semakin besar pengalinya.

Tabel Faktor Aktivitas (PAL) yang Digunakan

Level AktivitasPengaliDeskripsi
Sedentary1,2Kerja duduk, minim olahraga
Ringan1,375Olahraga ringan 1–3 hari/minggu
Sedang1,55Olahraga sedang 3–5 hari/minggu
Aktif1,725Olahraga berat 6–7 hari/minggu
Sangat Aktif1,9Atlet / pekerjaan fisik berat

Menyesuaikan TDEE untuk Target Berat Badan

Setelah mengetahui TDEE, Anda dapat mengatur asupan kalori sesuai tujuan:

Cutting (Turun BB)

Defisit 300–500 kkal dari TDEE. Target aman turun 0,5–1 kg/minggu tanpa kehilangan otot berlebih.

Maintenance (Stabil)

Konsumsi kalori setara TDEE. Cocok untuk mempertahankan berat badan ideal hasil diet.

Bulking (Naik BB/Otot)

Surplus 300–500 kkal dari TDEE disertai latihan beban untuk menambah massa otot bersih.

Contoh Perhitungan TDEE

Kasus: Pria, 28 Tahun, 168 cm, 62 kg, Aktivitas Ringan

β€’ BMR: (10 Γ— 62) + (6,25 Γ— 168) βˆ’ (5 Γ— 28) + 5 = 620 + 1050 βˆ’ 140 + 5 = 1.535 kkal
β€’ TDEE (PAL 1,375): 1.535 Γ— 1,375 = 2.110 kkal
β€’ Cutting: 2.110 βˆ’ 500 = 1.610 kkal
β€’ Bulking: 2.110 + 500 = 2.610 kkal

Adaptasi Termogenesis dan Mengapa TDEE Bukan Angka Statis

Salah satu kesalahan paling umum dalam menyusun program diet adalah menganggap TDEE sebagai angka permanen yang bisa dipakai seumur hidup. Padahal TDEE adalah hasil interaksi dinamis antara komponen BMR, aktivitas harian, dan yang sering diabaikan: adaptive thermogenesis atau adaptasi metabolik. Ketika Anda memangkas asupan kalori secara agresif dalam waktu lama, tubuh tidak tinggal diam. Ia menurunkan laju metabolisme basal, mengurangi gerakan spontan (NEAT), dan mengefisienkan kerja sistem saraf simpatik. Akibatnya, TDEE yang awalnya 2.400 kkal bisa turun secara nyata menjadi 2.100 kkal dalam beberapa minggu, meski berat badan dan aktivitas Anda relatif sama.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak orang mengalami plateau atau berat badan stagnan meski defisit kalori tetap dijalankan. Secara teknis, tubuh memandang defisit kalori besar sebagai ancaman kelangsungan hidup, sehingga memicu serangkaian kompensasi hormonal: leptin turun, ghrelin naik, hormon tiroid (T3) menurun, dan sensitivitas insulin berubah. Untuk mengatasinya, strategi diet break (jeda diet selama 1–2 minggu pada level kalori pemeliharaan) atau refeed day terbukti membantu memulihkan sebagian laju metabolik, terutama pada atlet dan individu dengan riwayat diet yo-yo.

Konsep ini juga penting dalam konteks Indonesia, di mana pola makan tinggi karbohidrat sederhana (nasi putih, gorengan, minuman manis kekinian) sering membuat orang kesulitan mempertahankan defisit tanpa merasa lemas. Mengetahui TDEE membantu Anda memutuskan kapan harus tetap berada di defisit, kapan harus naik ke pemeliharaan, dan kapan perlu reverse diet untuk menaikkan kembali ambang kalori tanpa menambah lemak secara signifikan.

Cara Menghitung TDEE Secara Manual Step-by-Step

Meski kalkulator TDEE memberi jawaban instan, memahami cara menghitungnya secara manual sangat berguna ketika Anda ingin memverifikasi angka, melakukan penyesuaian cepat, atau sekadar memahami logika di baliknya. Prosesnya terdiri dari empat langkah berurutan: menghitung BMR dengan rumus Mifflin-St Jeor, mengalikan dengan faktor aktivitas (PAL), menyesuaikan untuk target, lalu memantau respons tubuh selama 2–3 minggu.

Sebagai ilustrasi, ambil contoh pria bernama Andi berusia 28 tahun, berat 72 kg, tinggi 173 cm, dengan pekerjaan sebagai staf kantor (sebagian besar duduk) namun rutin latihan beban 3 kali per minggu. Pertama, hitung BMR dengan rumus pria: (10 Γ— berat kg) + (6,25 Γ— tinggi cm) βˆ’ (5 Γ— usia) + 5. Substitusi: (10 Γ— 72) + (6,25 Γ— 173) βˆ’ (5 Γ— 28) + 5 = 720 + 1.081,25 βˆ’ 140 + 5 = 1.666 kkal. Angka ini adalah kalori minimal yang dibutuhkan tubuh Andi untuk sekadar bertahan hidup dalam kondisi istirahat total.

Kedua, kalikan BMR dengan PAL. Dengan latihan beban 3–5 kali/minggu plus aktivitas harian ringan, faktor yang sesuai adalah 1,55. Maka TDEE Andi = 1.666 Γ— 1,55 = 2.582 kkal. Ketiga, tentukan target. Jika Andi ingin cutting dengan defisit 15%, asupan hariannya sekitar 2.195 kkal. Jika bulking dengan surplus 10%, targetnya sekitar 2.840 kkal. Terakhir, pantau berat badan mingguan. Jika turun 0,5–1% berat badan per minggu, defisit sudah tepat. Jika tidak bergerak dua minggu berturut-turut, kurangi 100–150 kkal atau tambah aktivitas.

Untuk wanita, rumusnya sedikit berbeda: (10 Γ— berat kg) + (6,25 Γ— tinggi cm) βˆ’ (5 Γ— usia) βˆ’ 161. Contoh pada Sari, 32 tahun, 60 kg, 160 cm, dengan aktivitas sedang (PAL 1,55): BMR = 600 + 1.000 βˆ’ 160 βˆ’ 161 = 1.279 kkal, sehingga TDEE-nya sekitar 1.982 kkal. Perbedaan konstanta βˆ’5 untuk pria dan βˆ’161 untuk wanita merefleksikan rata-rata komposisi tubuh dan hormon, bukan sekadar stereotip.

Studi Kasus: Menyusun Program Diet Realistis Selama 12 Minggu

Mari kita ikuti kasus Dewi, seorang karyawan swasta berusia 35 tahun di Jakarta dengan berat badan 74 kg dan tinggi 158 cm. Ia ingin menurunkan berat badan hingga 65 kg dalam 12 minggu. Awalnya Dewi hanya mengurangi porsi nasi tanpa menghitung kalori, tetapi berat badannya stagnan di 72 kg selama sebulan terakhir. Dengan menghitung BMR: (10 Γ— 74) + (6,25 Γ— 158) βˆ’ (5 Γ— 35) βˆ’ 161 = 740 + 987,5 βˆ’ 175 βˆ’ 161 = 1.391 kkal. Karena Dewi bekerja sebagai admin dengan mobilitas rendah namun berjalan kaki 30 menit setiap pagi (PAL 1,375), TDEE-nya = 1.391 Γ— 1,375 β‰ˆ 1.913 kkal.

Untuk menurunkan 9 kg dalam 12 minggu, ia butuh defisit sekitar 750 kkal per hari (1 kg lemak setara Β±7.700 kkal, sehingga 9 kg butuh Β±69.300 kkal atau Β±825 kkal/hari selama 84 hari). Namun defisit sebesar itu terlalu agresif dan berisiko kehilangan massa otot serta memicu adaptasi metabolik. Pendekatan realistis: defisit 400 kkal/hari (asupan Β±1.500 kkal) yang dikombinasikan dengan penambahan latihan beban 2 kali/minggu dan target penurunan 0,5 kg per minggu. Hasil yang realistis dalam 12 minggu adalah penurunan 5–6 kg, sisanya dilanjutkan pada siklus berikutnya.

Dewi juga mulai memantau indikator pendukung. Ia mengukur status gizinya melalui Kalkulator BMI (IMT) untuk memastikan tidak masuk kategori berat badan kurang, dan mencatat asupan makronya dengan Kalkulator Kalori & BMR. Ia juga memperhatikan hidrasi karena jumlah air yang cukup membantu mengontrol rasa lapar dan performa latihan, dihitung lewat Kalkulator Kebutuhan Air. Pola tidur yang teratur menjadi penopang tersendiri karena kurang tidur terbukti menurunkan sensitivitas leptin dan meningkatkan ghrelin, membuat defisit terasa jauh lebih sulit dijalani.

Tabel Rujukan Praktis dan Tips Optimasi TDEE

Berikut tabel ringkas yang bisa Anda gunakan sebagai rujukan cepat ketika menyusun target kalori berdasarkan TDEE yang sudah diketahui. Tabel ini menggabungkan rentang penyesuaian dengan tingkat agresivitas program, estimasi laju perubahan berat badan, serta catatan risiko yang perlu diperhatikan. Gunakan tabel ini sebagai panduan awal, bukan patokan mutlak, karena setiap tubuh memiliki respons yang berbeda terhadap defisit maupun surplus kalori.

Tujuan Program Penyesuaian dari TDEE Estimasi Laju Perubahan Catatan
Cutting konservatif βˆ’10% s.d. βˆ’15% 0,25–0,5 kg/minggu Aman untuk pemula, otot terjaga
Cutting agresif βˆ’20% s.d. βˆ’25% 0,7–1 kg/minggu Risiko otot hilang, butuh prot tinggi
Pemeliharaan (maintenance) 0% Stabil Cocok untuk diet break / refeed
Bulking lean +10% s.d. +15% 0,25–0,5 kg/minggu Minim lemak, fokus latihan beban
Bulking agresif +20% 0,7–1 kg/minggu Risiko lemak naik cepat
Rekomposisi tubuh βˆ’5% s.d. 0% Berat hampir stabil Komposisi berubah, butuh waktu lama

Setelah target kalori tersusun, fokus berikutnya adalah kualitas distribusi makronutrien. Protein sebaiknya berada di kisaran 1,6–2,2 gram per kilogram berat badan untuk mempertahankan massa otot selama defisit, lemak minimal 0,6–0,8 gram per kilogram untuk mendukung fungsi hormonal, dan sisanya dipenuhi karbohidrat sebagai bahan bakar latihan. Untuk pengguna yang ingin memantau parameter kesehatan reproduksi dan siklus hormonalβ€”terutama atlet wanita atau mereka yang sedang menjalani diet ketatβ€”kalkulator seperti Kalkulator Masa Subur dan Kalkulator Kehamilan & HPL bisa membantu melihat apakah defisit kalori mulai mengganggu keteraturan siklus.

Ukur, Jangan Menebak Gunakan timbangan dapur dan catat asupan minimal 7 hari untuk mendapat gambaran baseline yang akurat. Kesalahan pencatatan 20–30% adalah hal umum dan sering membuat defisit tidak tercapai meski terasa sudah β€œmakan sedikit”.
Evaluasi Dua Mingguan Jangan mengubah angka hanya karena berat stagnan 2–3 hari, karena fluktuasi air, siklus, dan sisa makanan di saluran cerna bisa menutupi progres nyata. Beri waktu minimal 14 hari sebelum menyimpulkan.
Jaga Tidur dan Stres Kurang tidur dan stres kronis meningkatkan kortisol yang berdampak pada retensi air serta nafsu makan. Prioritaskan tidur 7–9 jam per malam dan kelola stres agar keputusan kalori tetap rasional.
Bergerak Sepanjang Hari NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis) menyumbang variasi TDEE yang besar antar individu. Menambah 7.000–10.000 langkah sehari bisa β€œmembakar” 200–400 kkal tanpa harus menambah sesi latihan formal.
Sesuaikan Setiap 4–6 Minggu Saat berat badan turun 4–5 kg, TDEE juga ikut turun karena massa tubuh yang lebih kecil membutuhkan energi lebih sedikit. Hitung ulang TDEE dengan berat terbaru agar target tetap akurat.

Pada akhirnya, TDEE hanyalah titik awal estimasi. Yang menentukan keberhasilan program adalah konsistensi, pemantauan data, dan kesediaan menyesuaikan strategi berdasarkan respons tubuh. Gunakan kalkulator TDEE untuk menetapkan angka pembuka, lalu biarkan log mingguan Andaβ€”bukan perasaan atau asumsiβ€”yang menentukan penyesuaian berikutnya. Dengan begitu, perjalanan diet maupun bulking menjadi lebih terukur, minim drama, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Pertanyaan Paling Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa bedanya BMR dan TDEE?

BMR adalah kalori minimum untuk fungsi vital saat istirahat total, sedangkan TDEE adalah total kalori yang dibakar dalam 24 jam termasuk semua aktivitas fisik.

Q: Rumus apa yang digunakan untuk menghitung TDEE?

Kalkulator ini menggunakan rumus Mifflin-St Jeor untuk BMR, lalu dikalikan faktor aktivitas (PAL) 1,2 hingga 1,9 sesuai tingkat aktivitas harian.

Q: Berapa defisit kalori aman untuk menurunkan berat badan?

Defisit aman 300–500 kkal dari TDEE, menghasilkan penurunan 0,5–1 kg per minggu tanpa kehilangan massa otot berlebihan.

Q: Apakah TDEE berubah seiring waktu?

Ya, TDEE berubah saat berat badan, komposisi tubuh, usia, dan tingkat aktivitas berubah. Hitung ulang setiap 2 minggu agar target tetap akurat.

Tips Menyusun Program Berbasis TDEE

1. Prioritaskan Asupan Protein Konsumsi 1,6–2,2 gram protein per kg berat badan, terutama saat cutting, untuk menjaga massa otot. Cek kebutuhan Anda di Kalkulator Kebutuhan Protein.
2. Jangan Defisit Terlalu Agresif Defisit lebih dari 25% TDEE memicu kehilangan otot, penurunan metabolisme, dan efek yo-yo. Bertahanlah pada 300–500 kkal.
3. Evaluasi Tiap 2 Minggu TDEE berubah seiring perubahan berat badan dan aktivitas. Hitung ulang secara berkala agar target tetap akurat.
πŸ₯—

Kalkulator Terkait

Alat lain dalam kategori Kesehatan & Nutrisi yang mungkin Anda butuhkan

βš–οΈ
Kalkulator BMI (IMT)
Cek status berat badan ideal, risiko kesehatan metabolisme, dan anjuran pola gizi seimbang standar Kemenkes RI & WHO Asia-Pasifik.
πŸ”₯
Kalkulator Kalori & BMR
Hitung Basal Metabolic Rate (BMR) dan total kebutuhan kalori harian (TDEE) sesuai tingkat aktivitas untuk diet atau pembentukan otot.
🀰
Kalkulator Kehamilan & HPL
Hitung usia kehamilan dalam minggu, trimester, dan prediksi Hari Perkiraan Lahir (HPL) berdasarkan HPHT atau tanggal konsepsi.
🌸
Kalkulator Masa Subur
Prediksi hari ovulasi, rentang masa subur, dan hari terbaik untuk program kehamilan berdasarkan siklus haid Anda.
πŸ’§
Kalkulator Kebutuhan Air
Hitung kebutuhan air minum harian ideal berdasarkan berat badan, tingkat aktivitas, dan kondisi cuaca Anda.
😴
Kalkulator Siklus Tidur
Hitung waktu tidur dan bangun terbaik berdasarkan siklus tidur 90 menit agar bangun terasa lebih segar.
🧬
Kalkulator Body Fat
Hitung persentase lemak tubuh secara akurat dengan metode Angkatan Laut AS berdasarkan ukuran lingkar tubuh.
❀️
Kalkulator Detak Jantung
Hitung zona detak jantung latihan optimal berdasarkan usia untuk membakar lemak dan meningkatkan kebugaran kardio.
πŸ₯©
Kalkulator Protein
Hitung kebutuhan protein harian optimal berdasarkan berat badan, tingkat aktivitas, dan tujuan (diet, otot, atau pemeliharaan).
🀱
Kalkulator BB Ibu Hamil
Hitung rentang kenaikan berat badan ideal ibu hamil per trimester berdasarkan IMT pra-kehamilan (standar IOM/WHO).
βš–οΈ
Kalkulator Berat Badan Ideal
Hitung rentang berat badan ideal berdasarkan BMI standar Asia dan rumus Broca, plus prediksi tinggi badan genetik anak dengan rumus mid-parental.
πŸ‘Ά
Kalkulator Stunting Balita
Cek status gizi anak balita (TB/U, BB/U) berbasis standar WHO & Kemenkes untuk deteksi dini stunting dan masalah gizi.
πŸ‘Ά
Kalkulator Usia Anak
Hitung usia anak dalam tahun/bulan/hari dan cek tahap perkembangan (milestone) sesuai usianya.