Logo Kalkulatorin
kalkulatorin
πŸ“‰

Kalkulator Inflasi & Nilai Waktu Uang (FV / PV Rupiah)

Hitung penyusutan daya beli uang di masa depan (*Future Value*) dan prediksi kenaikan harga barang berdasarkan laju inflasi tahunan BPS. Rencanakan cadangan likuiditas keluarga Anda di Kalkulator Dana Darurat.

Rp
%
Tahun
πŸ’‘ Catatan Historis: Rata-rata inflasi umum Indonesia (BPS) 10 tahun terakhir berada di kisaran 3% - 5% per tahun, sedangkan inflasi biaya pendidikan dan properti berkisar antara 7% - 10% per tahun.
Biaya Masa Depan Barang yang Sama (Future Cost)
Rp 155.296.942
Daya Beli Uang Hari Ini di Masa Depan: Rp 64.392.768
Penyusutan Nilai Riil Uang: Tergerus -35,6%
Total Kenaikan Biaya Hidup Kumulatif: +55,3%
Rekomendasi Imbal Hasil Investasi: Minimal > 5,5% Netto per Tahun
⭐
Apakah kalkulator ini membantu? Beri penilaianmu β€” jujur aja.
πŸ›Ÿ
Ada yang salah dengan hasil hitungannya? Laporkan ke kami β€” kami cek & perbaiki.

Apa Itu Inflasi? Memahami Konsep "Pencuri Tak Kasat Mata" Kekayaan Anda

Secara terminologi ilmu ekonomi makro, inflasi adalah proses kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu perekonomian selama periode waktu tertentu. Kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali kenaikan tersebut meluas dan memicu kenaikan harga pada komoditas kebutuhan lainnya. Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia mengukur laju inflasi bulanan dan tahunan melalui perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencakup keranjang belanja ribuan komoditas rumah tangga di puluhan kota di seluruh Nusantara.

Bagi masyarakat awam, inflasi kerap diibaratkan sebagai *the invisible thief* atau pencuri tak kasat mata. Uang kertas Rp 100.000 yang Anda simpan di bawah bantal kasur tidak akan berkurang jumlah lembarannya setelah 10 tahun, namun daya belinya (*purchasing power*) akan merosot drastis. Jika sepuluh tahun lalu selembar uang seratus ribu rupiah sanggup membeli 10 kilogram beras kualitas premium, hari ini uang yang sama mungkin hanya cukup untuk membeli 6 kilogram beras dengan kualitas serupa.

Konsep Nilai Waktu Uang (*Time Value of Money*): Future Value & Present Value

Prinsip dasar keuangan modern menyatakan bahwa satu rupiah hari ini bernilai lebih tinggi daripada satu rupiah di masa yang akan datang. Hal ini disebabkan oleh potensi uang tersebut untuk menghasilkan imbal hasil bunga (*earning capacity*) serta ancaman depresiasi nilai akibat inflasi. Dua rumus utama yang digunakan dalam kalkulasi ini adalah:

1. Future Value (Nilai Masa Depan):
FV = PV Γ— (1 + i)^n

Menghitung berapa harga barang di masa depan setelah mengalami inflasi majemuk (*compound inflation*) tahunan sebesar i selama n tahun.

2. Purchasing Power (Daya Beli Riil):
Daya Beli = PV / (1 + i)^n

Menghitung nilai riil setara dari saldo uang tunai hari ini di masa depan jika Anda hanya mendiamkannya di rekening tabungan tanpa imbal hasil.

Dampak Inflasi Berdasarkan Sektor: Umum, Pendidikan, Properti & Kesehatan

Tingkat inflasi resmi yang diumumkan pemerintah (Headline Inflation) sebesar 3% - 4% sering kali terasa berbeda dengan realitas pengeluaran keluarga. Hal ini karena masing-masing sektor industri memiliki laju inflasi spesifik:

  • Inflasi Biaya Pendidikan Formal: Uang pangkal masuk sekolah swasta unggulan dan uang kuliah tunggal (UKT) perguruan tinggi di Indonesia tercatat mengalami kenaikan rata-rata 8% hingga 12% per tahun, jauh melampaui kenaikan gaji rata-rata karyawan.
  • Inflasi Biaya Pelayanan Medis: Biaya tindakan medis spesialis, rawat inap rumah sakit swasta, dan harga obat-obatan farmasi meningkat sekitar 10% hingga 14% per tahun (Medical Inflation).
  • Inflasi Harga Tanah & Properti: Nilai jual tanah di kawasan penyangga kota megapolitan seperti Jabodetabek meningkat pesat, sehingga Anda perlu merencanakan KPR secara matang di Simulasi Cicilan KPR.

Contoh Skenario Studi Kasus Penurunan Daya Beli Uang Rp 100 Juta dalam 10 Tahun

Kasus: Menyimpan Uang Tunai Rp 100.000.000 di Bawah Kasur

Pak Hendra memutuskan mendiamkan uang pesangonnya sebesar Rp 100.000.000 di rekening tabungan biasa tanpa bunga selama 10 tahun ke depan dengan asumsi laju inflasi tahunan rata-rata 4,5%.

β€’ Saldo Rekening Setelah 10 Tahun: Tetap Rp 100.000.000 (belum dipotong biaya administrasi bulanan).
β€’ Kebutuhan Dana untuk Membeli Barang yang Sama: Rp 100.000.000 Γ— (1 + 0,045)^10 = Rp 155.296.942.
β€’ Daya Beli Riil Uang Pak Hendra: Rp 100.000.000 / (1 + 0,045)^10 = Rp 64.392.768.
Kesimpulan: Nilai kekayaan riil Pak Hendra tergerus sebesar 35,6% tanpa disadari karena kalah melawan laju inflasi tahunan.

Strategi Mengalahkan Inflasi: Instrumen Investasi untuk Mempertahankan Nilai Aset

Satu-satunya cara rasional untuk melindungi aset kekayaan Anda dari gerusan inflasi adalah dengan berinvestasi pada instrumen aset produktif yang memberikan imbal hasil (*return*) di atas tingkat inflasi riil (*Beat The Inflation Rate*):

1. Surat Berharga Negara (SBN) & Sukuk Ritel Instrumen obligasi negara (ORI, SR, SBR) menawarkan kupon imbal hasil 6% - 7% per tahun yang dijamin 100% oleh undang-undang negara, memberikan selisih imbal hasil bersih (*real return*) di atas inflasi umum.
2. Logam Mulia Emas Fisik (Safe Haven) Emas batangan terbukti secara historis selama ribuan tahun sebagai lindung nilai (*hedging*) terbaik terhadap pelemahan nilai mata uang fiat dan krisis geopolitik global.
3. Reksa Dana Saham dan Indeks Dividen Konsisten Untuk tujuan jangka panjang di atas 10 tahun (seperti dana pensiun dan biaya kuliah anak), portofolio saham korporasi unggulan (Blue Chip) memberikan potensi pertumbuhan modal majemuk (*compounding growth*) sebesar 10% - 14% per tahun.

Rumus Future Value dan Present Value: Cara Menghitung Manual dengan Angka Nyata

Untuk memprediksi nilai uang di masa depan, kita menggunakan rumus Future Value (FV) sederhana: FV = PV Γ— (1 + i)n, di mana PV adalah nilai uang saat ini, i adalah laju inflasi tahunan (dalam desimal), dan n adalah jumlah tahun. Sebaliknya, untuk mengetahui berapa nilai uang masa depan jika ditarik ke hari ini, gunakan rumus Present Value: PV = FV Γ· (1 + i)n. Kedua rumus ini menjadi inti dari setiap kalkulator inflasi, termasuk yang Anda gunakan di halaman ini, karena keduanya menjembatani nilai nominal dan nilai riil daya beli.

Sebagai contoh konkret, misalkan Anda memiliki uang Rp 50.000.000 hari ini dan ingin tahu berapa nilai riilnya 8 tahun lagi jika inflasi rata-rata 4% per tahun. Dengan rumus FV: Rp 50.000.000 Γ— (1 + 0,04)8 = Rp 50.000.000 Γ— 1,3686 = Rp 68.428.000. Angka ini bukan berarti uang Anda bertambah, melainkan itulah nominal yang dibutuhkan di masa depan untuk membeli barang yang hari ini setara Rp 50 juta. Dengan kata lain, jika uang Anda hanya disimpan tanpa imbal hasil, daya belinya tergerus setara sekitar Rp 18,4 juta dalam delapan tahun.

Sementara itu, untuk perencanaan pensiun, rumus PV lebih relevan. Jika Anda menargetkan dana pensiun Rp 2 miliar pada 25 tahun mendatang dengan asumsi inflasi 5%, maka nilai hari ini dari target tersebut adalah Rp 2.000.000.000 Γ· (1 + 0,05)25 = Rp 2.000.000.000 Γ· 3,3864 = Rp 590.600.000. Artinya, uang sebesar Rp 590 juta hari ini memiliki daya beli setara Rp 2 miliar pada 25 tahun ke depan. Memahami selisih ini penting agar target finansial Anda tidak terlalu rendah akibat mengabaikan efek majemuk inflasi.

Perhatikan bahwa efek inflasi bersifat majemuk (compounding), sama seperti bunga investasi, namun arahnya berlawanan. Karena itu, perbedaan asumsi inflasi 3% versus 6% selama 20 tahun bisa menghasilkan selisih daya beli yang sangat signifikan. Selalu gunakan asumsi inflasi yang konservatif, misalnya mengacu pada rata-rata inflasi umum Indonesia dalam satu dekade terakhir, agar perhitungan Anda tidak terlalu optimistis dan lebih siap menghadapi kenyataan.

Studi Kasus: Keluarga Muda dan Keputusan Membeli Rumah di Tengah Tekanan Inflasi

Bayangkan pasangan suami istri berusia 30 tahun, sebut saja Andi dan Rina, tinggal di kota besar dengan total pendapatan bulanan Rp 25 juta. Mereka berencana membeli rumah tipe 70 dengan harga hari ini Rp 1,2 miliar. Dengan asumsi kenaikan harga properti 6% per tahun β€” sektor properti cenderung tumbuh lebih cepat dari inflasi umum β€” maka lima tahun lagi harga rumah tersebut akan menjadi Rp 1,2 miliar Γ— (1,06)5 = Rp 1,605 miliar. Selisih Rp 405 juta inilah yang menjadi "biaya menunda" keputusan pembelian rumah.

Untuk merencanakan pembelian ini, mereka tentu perlu menghitung cicilan bulanan melalui Simulasi KPR Rumah, memperhitungkan uang muka minimal 20%, tenor, serta bunga tetap dan mengambang. Di sisi lain, kenaikan harga tanah dan bangunan juga membawa konsekuensi pajak, seperti Pajak Bumi dan Bangunan serta PPN atas properti baru melalui Kalkulator PPN, sehingga perhitungan biaya total harus mencakup komponen fiskal ini.

Pertimbangan lain yang sering terlewat adalah pengaruh inflasi terhadap pendapatan mereka. Jika kenaikan gaji tahunan hanya 5%, sedangkan harga properti naik 6%, maka secara riil kemampuan mereka membeli rumah justru menurun setiap tahun. Dalam skenario ini, membeli rumah lebih awal dengan cicilan tetap menjadi strategi lindung nilai (hedging) terhadap inflasi properti. Namun, keputusan tersebut hanya masuk akal jika arus kas bulanan mereka tetap sehat, dengan rasio cicilan tidak melebihi 30% dari penghasilan bersih.

Andi dan Rina juga perlu menyiapkan dana darurat yang nilainya ikut terinflasi. Idealnya dana darurat setara 6 kali pengeluaran bulanan, tetapi jika pengeluaran bulanan Rp 15 juta hari ini, maka 5 tahun lagi kebutuhan hidup bulanan bisa mencapai Rp 20 juta lebih. Semua angka ini menunjukkan bahwa perencanaan keuangan yang mengabaikan inflasi bisa membuat keputusan finansial terasa selalu "berlari di tempat", meski nominal tabungan bertambah setiap bulan.

Tabel Rujukan dan Tips Praktis Menghitung Dampak Inflasi

Setiap sektor pengeluaran memiliki laju inflasi yang berbeda, sehingga menggunakan satu angka inflasi umum untuk semua pos anggaran bisa menyesatkan. Berikut tabel perbandingan asumsi laju inflasi tahunan yang umum dipakai sebagai rujukan perencanaan, lengkap dengan contoh efek majemuk 10 tahun. Angka-angka ini merupakan estimasi praktis yang lazim dipakai dalam literatur perencanaan keuangan, dan dapat Anda sesuaikan dengan data aktual dari Badan Pusat Statistik serta asumsi pribadi.

Kategori Pengeluaran Asumsi Inflasi / Tahun Faktor 10 Tahun Rp 10 Juta Hari Ini Setara
Umum (kebutuhan pokok) 3% – 4% 1,34 – 1,48 Rp 13,4 – 14,8 juta
Pendidikan 8% – 12% 2,16 – 3,11 Rp 21,6 – 31,1 juta
Kesehatan 7% – 10% 1,97 – 2,59 Rp 19,7 – 25,9 juta
Properti 5% – 8% 1,63 – 2,16 Rp 16,3 – 21,6 juta
Kendaraan bermotor 4% – 6% 1,48 – 1,79 Rp 14,8 – 17,9 juta

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa inflasi pendidikan dan kesehatan jauh lebih agresif daripada inflasi umum. Orang tua yang menabung untuk biaya kuliah anak dengan asumsi inflasi 4% bisa mengalami kekurangan dana yang signifikan. Karena itu, perhitungan kebutuhan dana pendidikan perlu memakai asumsi inflasi sektoral, bukan inflasi umum. Hal serupa berlaku untuk perencanaan kesehatan jangka panjang, khususnya saat memasuki usia pensiun ketika risiko biaya medis meningkat.

Berikut beberapa panduan praktis yang bisa Anda terapkan saat menggunakan kalkulator inflasi maupun saat menyusun anggaran jangka panjang. Prinsipnya sederhana: konsisten memperhitungkan efek majemuk, memakai asumsi yang wajar, dan memeriksa ulang angka setiap tahun agar rencana keuangan tetap relevan dengan kondisi ekonomi terkini.

Gunakan Inflasi Sektoral Jangan pakai satu angka inflasi untuk semua pos. Hitung kebutuhan pendidikan dengan asumsi 8–12%, kesehatan 7–10%, dan kebutuhan pokok 3–4% agar estimasi dana tidak salah jauh.
Perhitungkan Beban Pajak dan Biaya Transaksi Saat merencanakan pembelian aset besar seperti rumah atau kendaraan, sertakan pajak, biaya notaris, asuransi, dan biaya administrasi. Gunakan Simulasi Kredit Kendaraan dan kalkulator pajak terkait untuk memperhitungkan total biaya kepemilikan, bukan hanya harga beli awal.
Tinjau Asumsi Setiap Tahun Laju inflasi berubah dari tahun ke tahun. Perbarui asumsi Anda minimal sekali setahun dengan merujuk pada data inflasi resmi, lalu sesuaikan target dana pensiun, pendidikan, dan tabungan lainnya agar rencana tetap realistis.
Sisihkan Selisihnya Sebagai Proteksi Jika perhitungan menunjukkan kebutuhan masa depan lebih besar dari ekspektasi awal, sisihkan dana tambahan sejak sekarang. Bahkan tambahan kecil yang diinvestasikan rutin dapat menutup selisih akibat efek majemuk inflasi di kemudian hari.

Pertanyaan Paling Sering Diajukan Seputar Inflasi (FAQ)

Q: Berapa rata-rata inflasi tahunan Indonesia?

Rata-rata inflasi umum Indonesia 10 tahun terakhir berada di kisaran 3%-5% per tahun. Namun inflasi pendidikan dan kesehatan bisa mencapai 8%-14% per tahun.

Q: Apa yang dimaksud dengan nilai waktu uang?

Prinsip bahwa satu rupiah hari ini bernilai lebih tinggi daripada satu rupiah di masa depan, karena uang hari ini dapat diinvestasikan menghasilkan imbal hasil dan tergerus inflasi seiring waktu.

Q: Bagaimana cara melindungi uang dari inflasi?

Berinvestasi pada instrumen dengan imbal hasil di atas inflasi seperti SBN/Sukuk Ritel (6-7%), emas batangan, properti, dan reksa dana saham jangka panjang.

Penyebab Terjadinya Inflasi: Demand-Pull vs Cost-Push Inflation

Untuk menyusun strategi keuangan jangka panjang yang efektif, penting bagi masyarakat untuk mengenali dua faktor pemicu utama kenaikan inflasi dalam perekonomian nasional:

1. Tarikan Permintaan (Demand-Pull Inflation):

Terjadi saat likuiditas uang yang beredar di masyarakat sangat melimpah sementara kapasitas produksi barang terbatas. Pola konsumsi yang melonjak drastis (misal saat menjelang Hari Raya Idulfitri) mendorong penjual menaikkan harga komoditas pangan secara serentak.

2. Dorongan Biaya Produksi (Cost-Push Inflation):

Dipicu oleh lonjakan biaya bahan baku hulu, kenaikan tarif dasar listrik industri, penyesuaian harga BBM bersubsidi, atau pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS yang mendongkrak ongkos impor bahan baku manufaktur (*imported inflation*).

Dampak Nyata Inflasi Terhadap Perencanaan Pensiun dan Pendidikan Anak

Kesalahan paling fatal yang kerap dilakukan kepala keluarga adalah membuat target tabungan masa depan berdasarkan standar biaya hidup hari ini. Jika saat ini biaya kuliah di fakultas kedokteran favorit membutuhkan dana Rp 250 juta, dengan asumsi inflasi pendidikan 10% per tahun, maka saat anak Anda berusia 18 tahun (15 tahun lagi), biaya yang dibutuhkan melonjak menjadi lebih dari Rp 1 miliar.

Begitu pula dengan persiapan dana pensiun hari tua. Uang pensiun Rp 5 miliar yang terdengar sangat besar hari ini, nilainya akan menyusut setara dengan daya beli Rp 1,5 miliar dalam 25 tahun mendatang jika Anda tidak memperhitungkan efek inflasi majemuk secara disiplin sejak usia produktif.

Strategi Membangun Portofolio Tahan Inflasi (*All-Weather Portfolio*)

Investor legendaris Ray Dalio menyarankan diversifikasi aset ke dalam beberapa instrumen yang memiliki korelasi berbeda terhadap siklus inflasi:

  • Aset Riil Berwujud (Emas & Properti): Berfungsi sebagai benteng pertahanan terbaik saat inflasi melonjak tak terkendali (*high inflation environment*).
  • Saham Perusahaan *Consumer Goods* Unggulan: Korporasi dengan kekuatan penetapan harga (*pricing power*) tinggi mampu mengalihkan beban kenaikan biaya produksi langsung kepada konsumen tanpa kehilangan pangsa pasar.
  • Instrumen Pasar Uang & Deposito Tenor Pendek: Menjaga fleksibilitas likuiditas harian sembari menikmati kenaikan suku bunga acuan perbankan yang biasanya dinaikkan oleh bank sentral untuk meredam inflasi.

Perbedaan Inflasi, Deflasi, Stagflasi, dan Hiperinflasi

Dalam siklus ekonomi makro global, pergerakan tingkat harga dan daya beli masyarakat dapat termanifestasi dalam beberapa kondisi ekstrem yang patut dipahami:

  • Deflasi: Penurunan harga-harga barang secara umum dan berkelanjutan yang biasanya diiringi oleh penurunan daya beli dan resesi ekonomi mendalam. Konsumen menunda belanja karena memperkirakan harga akan semakin murah, sehingga roda bisnis melambat.
  • Stagflasi: Kondisi ekonomi yang sangat ditakuti bank sentral, yakni perpaduan antara laju inflasi yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang mandek (*stagnan*), serta angka pengangguran yang melonjak drastis secara bersamaan.
  • Hiperinflasi: Lonjakan inflasi yang tidak terkendali dengan laju kenaikan harga melebihi 50% per bulan, mengakibatkan nilai mata uang lokal runtuh seketika dan masyarakat beralih ke sistem barter atau valuta asing.

Dengan memahami berbagai dinamika moneter ini serta memanfaatkan kalkulator inflasi untuk memproyeksikan kebutuhan kas masa depan, Anda dapat mengambil langkah preventif sedini mungkin guna mengamankan masa depan finansial keluarga tercinta.

Peran Kebijakan Moneter Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter independen memiliki mandat tunggal mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa (inflasi) maupun terhadap mata uang negara lain (kurs valuta asing). Melalui kerangka kerja *Inflation Targeting Framework* (ITF), BI menetapkan sasaran inflasi tahunan (misal 2,5% ± 1%) sebagai pedoman pasar.

Ketika laju inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda panas (*overheating*), Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate). Kenaikan suku bunga ini mendorong perbankan menaikkan bunga simpanan deposito sehingga masyarakat lebih terpacu menabung daripada membelanjakan uangnya. Penurunan konsumsi ini kemudian meredam laju kenaikan harga barang hingga kembali ke rentang sasaran target yang sehat bagi perekonomian nasional.

πŸ’°

Kalkulator Terkait

Alat lain dalam kategori Keuangan & Pajak yang mungkin Anda butuhkan

πŸ’Ό
Kalkulator Pajak PPh 21 (TER 2026)
Hitung potongan pajak penghasilan bulanan resmi tarif efektif rata-rata (TER Kategori A, B, C) sesuai PP 58/2023 & PMK 168/2023.
🏑
Kalkulator KPR Rumah
Kalkulasi angsuran bulanan KPR, simulasi suku bunga fixed & floating perbankan nasional, serta estimasi rincian biaya awal.
πŸ’Ό
Kalkulator Pesangon PHK
Simulasi perhitungan uang pesangon, UPMK, UPH, dan kompensasi PHK berdasarkan PP Nomor 35 Tahun 2021 dan UU Cipta Kerja terbaru.
🧾
Kalkulator PPN
Hitung nilai Pajak Pertambahan Nilai (PPN), harga sebelum pajak (DPP), dan harga akhir include PPN secara instan sesuai UU HPP.
πŸͺ
Kalkulator PPh Final UMKM
Simulasi pajak penghasilan final PP 55/2022 lengkap dengan fasilitas omzet s.d. Rp 500 juta bebas pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi.
πŸš—
Kalkulator Kredit Kendaraan
Hitung cicilan bulanan, bunga flat, dan Total Down Payment (TDP) kredit mobil & motor termasuk asuransi dan administrasi.
πŸ’°
Kalkulator Bunga Deposito
Simulasi imbal hasil deposito perbankan, potongan pajak PPh final 20% (saldo > Rp 7,5 juta), dan proteksi bunga penjaminan LPS.
πŸ›‘οΈ
Kalkulator Dana Darurat
Hitung kebutuhan dana darurat ideal berdasarkan status keluarga, pengeluaran bulanan, dan profil risiko pekerjaan Anda.
πŸ•Œ
Kalkulator Zakat
Hitung nisab 85 gram emas, kewajiban zakat profesi bulanan, dan zakat harta simpanan sesuai fatwa MUI dan regulasi BAZNAS.
πŸ’΅
Kalkulator Gaji Bersih
Hitung gaji bersih yang masuk ke rekening setelah dipotong BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, dan PPh 21 skema TER 2026.
πŸ–οΈ
Kalkulator Dana Pensiun
Hitung target dana pensiun ideal, simulasi inflasi 25 tahun, dan kebutuhan tabungan bulanan untuk bebas finansial.
🦺
Kalkulator BPJS Ketenagakerjaan
Hitung iuran BPJS Ketenagakerjaan porsi perusahaan dan karyawan, simulasi saldo JHT, serta manfaat Jaminan Pensiun.
πŸ“ˆ
Kalkulator Margin Keuntungan
Hitung margin laba, markup harga jual, dan penentuan harga produk UMKM secara akurat berdasarkan biaya produksi.
βš–οΈ
Kalkulator BEP Usaha
Hitung titik impas dalam unit dan rupiah serta margin kontribusi produk untuk perencanaan bisnis yang sehat.
🏦
Kalkulator Target Tabungan
Hitung tabungan bulanan yang dibutuhkan untuk mencapai target finansial tertentu dengan mempertimbangkan bunga majemuk.
🎁
Kalkulator THR
Hitung THR proporsional sesuai Permenaker 6/2016 dan estimasi potongan pajaknya. Cocok untuk karyawan tetap, kontrak, dan pekerja harian lepas.
🏍️
Kalkulator Pajak Motor (PKB)
Hitung PKB tahunan, opsen pajak, dan simulasi tarif progresif kendaraan ke-2 dst sesuai UU HKPD. Dilengkapi SWDKLLJ Jasa Raharja.
⏰
Kalkulator Denda Pajak Kendaraan
Estimasi denda PKB 2% per bulan (maks 48%) dan denda SWDKLLJ 25% akibat keterlambatan pembayaran pajak kendaraan.
🏠
Kalkulator BPHTB Properti
Hitung Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan (BPHTB) 5% saat beli rumah, termasuk pengurangan NJOPTKP dan keringanan waris/hibah.
πŸ“¦
Kalkulator HPP UMKM
Hitung harga pokok produksi/penjualan, biaya per unit, dan harga jual ideal berdasarkan target margin keuntungan untuk UMKM.
πŸ“ˆ
Kalkulator Bunga Majemuk
Proyeksi pertumbuhan tabungan & investasi dengan efek compounding, frekuensi bunga, dan setoran rutin bulanan.
🧑
Kalkulator Biaya Shopee
Hitung biaya admin Shopee per kategori produk, gratis ongkir, dan profit bersih penjual setelah HPP. Data biaya terpusat & mudah di-update.
🎡
Kalkulator Biaya TikTok Shop
Hitung biaya komisi TikTok Shop per kategori, biaya promosi, dan profit bersih penjual setelah HPP. Cocok untuk seller affiliate & live shopping.
🟒
Kalkulator Biaya Tokopedia
Hitung biaya komisi Tokopedia per kategori, biaya layanan, dan profit bersih penjual setelah HPP. Termasuk skema Power Merchant.
🧾
Kalkulator Pajak Marketplace
Estimasi PPh 22 yang dipungut marketplace atas penjualan online (PMSE). Terpisah dari biaya admin platform.
🏑
Kalkulator PBB
Estimasi PBB terutang per tahun dari NJOP bumi & bangunan, NJOPTKP, dan tarif PBB-P2 sesuai UU HKPD.
πŸ“œ
Kalkulator Waris Faraid
Estimasi pembagian harta warisan menurut hukum faraid (dzawil furud & ashabah) untuk ahli waris inti.
πŸ›οΈ
Kalkulator Perbandingan PayLater
Bandingkan cicilan, bunga, biaya layanan, dan total bayar Kredivo, SPayLater, TikTok PayLater, GoPay Later, Akulaku, Home Credit, Indodana, Atome & lainnya dalam satu kali hitung.